What I Know About Android

Courtesy of Flickr/edlimagno
Banyak yang nanya ke gw, Android yang bagus itu yang seperti apa, merk ponsel Android apa yang pas buat mereka dan sebagainya dan sebagainya. Jadi ya, kalau mau tahu lebih banyak sih sebenernya coba cari di forum-forum yang bisa ditemukan di Google Search untuk sekedar baca-baca. Di bawah ini gw mau kasih tau info soal Android sepanjang pengetahuan gw aja, okeh? :)


Jadi, Android sendiri itu adalah OS (Operating System). Maksudnya adalah sistem yang bekerja dengan perangkat baik itu ponsel, tablet atau lainnya. Untuk ponsel sendiri, OS itu ada beberapa seperti Symbian (yang berganti nama menjadi Nokia OS, BlackBerry, Windows Phone, Palm, dll). Jadi, Android itu bukan merk ponsel ya, melainkan sistem yang berjalan di dalam ponsel tersebut #NyisirJambul

Courtesy of Flickr/doglad
Pertanyaan yang sering ditanyakan orang ke gw adalah, "Apa sih bagusnya Android?" Well, setiap OS pasti punya keunggulan dari yang lainnya. Kalau ditanya apa bagusnya, gw pasti akan bilang karena ada banyak aplikasi gratis dan atau berbayar yang bisa membuat ponsel jadi semakin mumpuni dari segi performa. Toh Android sendiri memang merupakan sebuah OS yang open source, alias setiap individu atau grup bisa membuat aplikasi mereka sendiri di bawah pengawasan dan uji lisensi dari Google. Itu berarti, kebanyakan aplikasi yang ada di Android Market dibuat atas dasar kebutuhan pengguna, bukan desakan dari Google atau pihak lainnya seperti produsen ponsel walaupun Google sendiri juga membuat aplikasi untuk kebutuhan penggunanya. 

Ada lagi yang sering tanya, "Bagusan Android atau (misalnya) BlackBerry atau Nokia atau lainnya." Untuk yang satu ini gw pasti balikin ke mereka yang nanya, "Kebutuhan elo ponsel seperti apa?" Karena gw adalah orang yang gemar nonton video (musik, film, dll) melalui perangkat bergerak, serta senang mendengarkan musik, ya pilihan gw jatuh ke Android. Kenapa? Karena dibandingkan perangkat ponsel ber-OS lain serta dengan harga yang jauh lebih terjangkau dari produk Apple, gw udah bisa mendapatkan kebutuhan yang gw mau.

Courtesy of TheTechJournal.com
Ada lagi yang tanya, "Kenapa sih ponsel Cina/lokal Android bisa lebih murah?" Gw selalu bilang ke mereka untuk cek spesifikasinya. Apakah OS-nya bisa di-upgrade, apakah Android Marketnya sudah bisa menjangkau seluruh dunia, karena kebanyakan ponsel berbasis Android Cina hanya bisa mendata Market untuk pasar Cina, jadi kalian nggak bisa menemukan aplikasi yang dibuat oleh orang Finlandia (misalnya). Lalu hal yang sering gw temui adalah di sensor layar. Kebanyakan ponsel Android Cina/Lokal masih menggunakan ponsel touchscreen dengan sensor Resistive, sementara gw lebih suka Capacitive. Apa itu Resistive dan Capacitive dan apa bedanya? Resistive itu bukan layar yang menggunakan sensor panas tubuh, jadi untuk menggunakannya nggak bisa hanya disentuh, melainkan harus sedikit ditekan dan lebih mumpuni apabila menggunakan kuku atau alat bantu lainnya seperti stylus. Sementara Capacitive kebalikannya. Capacitive menggunakan panas tubuh sehingga hanya bisa melakukan pengoperasian dengan kulit, sehingga pengalaman 'Touchscreen' lebih berasa. Sebenarnya ini sih kembali lagi ke pengguna, lebih nyaman yang mana. Tapi karena teknologi Capacitive lebih mahal dan lebih maju daripada Resistive, itu sebabnya untuk menekan harga jual, ponsel Android Cina/Lokal menggunakan layar sentuh Resistive sementara ponsel Android merk besar sudah menggunakan Capacitive. Beberapa ponsel dan atau tablet Android Cina/Lokal juga ada kok yang sudah membenamkan sensor Capacitive, namun biasanya harga ponselnya dibandrol lebih mahal.

Courtesy androinica.com
Selain itu, cek juga ketahanan baterai. Untuk yang satu ini, kembali lagi ke kebutuhan pengguna, ponselnya akan digunakan untuk apa. Kalau akan lebih sering mendengarkan MP3, menonton video, memainkan game serta ber-jejaring sosial dengan interval notifikasi yang cepat, pasti butuh daya tahan baterai yang besar. Tapi kalau hanya sekedar untuk bermain game atau hanya sesekali browsing situs, kisaran angka 600mAH sepertinya cukup. Sekedar informasi, ponsel gw berdaya tahan baterai 650mAH dan setiap harinya gw gunakan untuk berselancar di internet (Twitter, Facebook, Path, FoodSpotting, FourSquare, Gowalla, email, Chat, WhatsApp, YouTube, Google Search), Games, telefoni, dan Camera biasanya bertahan selama 10 jam. Tapi jangan lupa, ponsel yang terus menerus mencari sinyal operator juga menguras baterai. Jadi kalau ada yang ngeluh, "Gw nggak pake ponsel secara intens tapi kok baru beberapa jam udah lowbat?" Coba cek sinyal operator di sekitar elo, stabil atau nggak? :)

Ada juga yang tanya soal merk ponsel. "Android yang bagus itu yang merk-nya apa?" Sekedar informasi, saat Google mulai mengembangkan Android, ada dua produsen ponsel yang sudah ikut serta, yaitu Samsung dan HTC. Dari awalnya, dua produsen ini ikut membantu Google berkecimpung menyukseskan OS Android. Mungkin itu alasan Google mengeluarkan Google Nexus One buatan HTC sementara seri penerusnya Google Nexus S dikerjakan oleh Samsung. Kalau bahasa Indonesianya, Samsung & HTC ini sudah 'ngelotok' kalo soal platform Android. Sementara produsen lain macam Sony Ericcson (sekarang Sony), LG dan yang lainnya mulai menggunakan Android saat platform itu sendiri sudah mengalami perkembangan. Ibaratnya kalau Android itu adalah Sekolah Dasar, murid yang kali pertama masuk sejak pendaftaran adalah Samsung dan HTC, sementara murid-murid lain mulai masuk saat kedua produsen Korea Selatan ini duduk di kelas 3. Bukan berarti merk lain tidak bagus, hanya saja bisa dibilang kalau Samsung & HTC sudah berpengalaman dalam OS berlogo robot hijau ini. Toh dalam perkembangannya, setiap produsen akhirnya diberikan kebebasan untuk mengembangkan UI (User Interface) mereka sendiri yang berbuntut dengan kenyamanan pengguna. Got it?

Courtesy of 99cblog.com
"Android tuh nggak bisa kaya iPhone ya, tombolnya cuma 1 gitu, kan enak, ringkes, minimalis, atau kaya Nokia N9 yang nggak ada tombolnya." tanya temen gw yg lain.  Jawabannya sederhana, nggak bisa. OS Android dengan sendirinya memang membagi tombol Home, Back & Option secara terpisah. Untuk saat ini, ketiga tombol ini memang harus dan akan ada di semua ponsel berbasis Android. Kalaupun produsen menambahkan tombol lainnya misalnya 'Search' atau 'Web', tidak masalah, yang penting tiga tombol utama tadi harus dan sudah pasti ada. "Tapi kok Samsung Galaxy S tombolnya cuma satu, di tengah?" Nah, itu karena dua tombol lainnya dibuat Haptic. Maksudnya, tombol tersebut tidak dibuat tombol fisiknya melainkan dibuat tombol Touch Sensitive yang akan muncul berbinar saat pengguna membutuhkannya. Sehingga kalau ponsel berada dalam keadaan idle, hanya terlihat satu tombol fisik macam iPhone. #GelarTaplakMeja #TerMH #eeaaa :P

Pertanyaan lain dari temen gw itu, "Kenapa sih ponsel Android touchsreen semua? Gw nggak suka touchscreen, gw sukanya qwerty." Basis Android memang dibuat untuk touchscreen alias layar sentuh. Kalaupun produsen akhirnya menambahkan tombol fisik qwerty, pasti layarnya masih menggunakan touchscreen. :P

Courtesy of techicious.com
Dan akhirnya pertanyaan yang masih menghantui gw adalah, "Lo kenapa pake Android, Fik? Pake BB dong biar bisa BBM-an..!!" Alasan gw nggak pake BlackBerry adalah, karena kebutuhan. Gw butuh ponsel yang (seperti yang gw bilang tadi) bisa memutar video baik itu hanya video klip berdurasi 3 menit atau film berdurasi 2 jam. Gw butuh ponsel yang bisa memenuhi keinginan gw untuk menonton YouTube atau melihat situs yang membutuhkan Flash Player yang mumpuni. Gw juga nggak suka punya ponsel dengan segala kemampuan mumpuni tapi langkah gw dibatasi oleh operator, maksudnya, dengan harga langganan perbulan sekian gw cuma bisa melakukan ina dan inu, dan seterusnya. #NoMention Bwihihihi... ;))))

BTW, kalo ada yang salah tulis atau keliru, boleh diedit, mengingat yang gw tulis ini hanya dari pengalaman & pengetahuan semata. Kalau ada yang mau sharing soal Androidnya boleh juga lho. :D

Courtesy of Flickr/asirap
Note:
Patut diingat dan dipahami, kalau ponsel Android itu membutuhkan jaringan internet yang cukup untuk menjalankan fungsi Cloud atau fungsi dasar Google di dalamnya, ini juga akan menguras baterai dan pulsa (apabila menggunakan jaringan internet). Untuk menghematnya, jangan lupa matikan semua fungsi "Allow Automatic Updating" di setiap aplikasi yang terinstall dari Android Market. Caranya, Buka Market, My Apps, tab salah satu Aplikasi dan pastikan kolom 'Allow Atomatic Updating" tidak ter-checklist.

Hubungi operator kamu mengenai paket berlangganan internet agar nggak tiba-tiba pulsa habis tersedot dan malah menyalahkan Android (banyak nih yang kaya gini). #melipir

Sering-sering juga cek sisa kapasitas memori di Setting, SD Card & Phone Storage. Agar nggak kerepotan saat harus meng-install suatu aplikasi tapi ditolak oleh ponsel karena memori penuh (pengalaman gw banget nih.. uhuhuhuhu... T_T)

Seperti semua alat elektronik, ada kalanya ponsel Android lo juga harus diistirahatkan. Jadi, kalau memang ada waktu senggang, matikanlah Andro, Andy, RobotIjo atau apapun nama kesayangan gadget lo itu. Kasihan kan kalo harus kerja selama 24/7 :)

Kalau cukup sering install dan atau meng-uninstall aplikasi, cek SD Card. Karena beberapa aplikasi yang sudah ter-uninstall terkadang masih meninggalkan bekas di memory card. Bersihkan & hapus saja foldernya, kan lumayan untuk kasih tempat luang buat aplikasi lain yang mau diinstal. :)


Courtesy of ausdroid.net
Buat yang punya Twitter, follow deh @DokterDroid & @SusterDroid untuk sekedar tahu info atau berbagi pengalaman seputar Android. Atau sekalian follow @AndroidDev untuk tahu para developer Android.

Blog ini gw tulis atas inspirasi (lebih tepatnya desakan, paksaan dan tuntutan) dari @FikriAul_ @echi_regar @dyna_kawaii @chuckylikey @bhekti_dewi @Meta_Chan @andyayyoub ahiuw! :D

Courtesy of Flickr/What's Up Android?






Comments

Popular posts from this blog

Gempuran Voucher Diskon

This, is Lumia 920