What's Inside Windows Phone
Jajaran ponsel Windows Phone mulai menggila. Barisan produk keluaran dari Nokia, HTC, Huawei & Samsung satu per satu mulai muncul di pasaran. Apalagi, LG dan ZTE sudah berniat untuk merilis ponsel dengan OS keluaran Microsoft ini dalam waktu dekat. Tapi, apa bagusnya Windows Phone?
Windows Phone 7, 7.8 & 8
WP 7 merupakan OS pertama dari Microsoft yang rilis massal untuk konsumen dengan update ke WP 7.5 dan 7.8. Versi ini sendiri tidak akan mendapatkan update ke versi WP 8 karena spesifikasi minimum yang ada di WP 8.
Seperti Android yang juga mengembangkan Cupcake, Donut dan Eclair hingga akhirnya memutuskan bahwa Froyo merupakan OS minimum yang harus digunakan dalam ponsel Android, pun begitu dengan Windows Phone. Nantinya, WP 8 akan menjadi versi minimum untuk ponsel dengan spesifikasi tinggi sementara WP 7.8 akan mendukung ponsel dengan spesifikasi menengah ke bawah untuk menjangkau berbagai kalangan konsumen. WP 8 sendiri akan menjadi versi standar untuk penggunaan OS Windows Phone ke depannya.
Spesifikasi dari WP 8 termasuk di dalamnya mampu mendukung prosesor multi-core, resolusi layar yang lebih besar, kompabilitas dengan aplikasi untuk WP 7, NFC, mendukung penambahan memori eksternal dengan kartu memori, aplikasi Wallet, dan integrasi aplikasi VoIP yang terhubung dengan OS itu sendiri, oh, juga integrasi dengan Windows 8.
Semua ponsel dengan OS Windows Phone membawa fitur ini di halaman awal atau Home Screen. Live Tiles sendiri merupakan shortcut yang berbentuk kotak yang terdapat pada Home Screen. Perbedaan antara versi WP 7, 7.5 dengan WP 7.8 & 8, cuma terletak pada ukuran Live Tiles itu sendiri. Kalau di versi WP 7 dan 7.5, Live Tiles cuma memiliki dua buah ukuran, sedang dan besar. Sementara pada versi upgrade Wp 7.8 dan versi terakhir, WP 8, Live Tiles sudah memiliki tiga ukuran, kecil, sedang & besar. Penting? Untuk beberapa orang yang gemar meletakkan banyak aplikasi di halaman awal, jelas hal ini penting. Karena apabila menggunakan Live Tiles berukuran kecil, banyak aplikasi bisa disematkan tanpa harus makan banyak tempat seperti saat menggunakan ukuran sedang atau besar. Selain itu, Live Tiles juga bisa menjadi ciri khas sang pengguna.
Live Tiles disebut-sebut sebagai widget untuk OS lain, bedanya, notifikasi langsung muncul di Live Tiles. Begini, kalau di Android dan iOS semua notifikasi ada di Notification Tray yang harus ditarik dari bagian atas layar atau dari bawah untuk beberapa tablet Android. Pada saat Lock Screen, ponsel pasti berbunyi saat ada notifikasi dan notifikasi pasti muncul lalu hilang. Untuk mengetahui notifikasi apa saja yang masuk, pengguna harus membukanya di Notification Tray atau melihatnya berjajar pada panel atas yang sejajar dengan status baterai dan jam.
Di Windows Phone, semua aplikasi "bertanggung jawab" untuk memberi tahu update terbaru. Jadi, pengguna tidak perlu buka Notification Tray, karena notifikasi sudah muncul sendiri di aplikasi yang ada di Home Screen. Contohnya ada di gambar berikut, ada notifikasi kalau gw terima 3 Message (pojok kiri atas) dan Line (ada 14 message baru).
Repotnya, apabila aplikasi itu tidak di Pin (sematkan) ke Home screen, pengguna tidak akan tahu dia mendapatkan notifikasi. Misalnya, kamu tidak menyematkan aplikasi Line ke Home Screen, lalu saat ada notifikasi kamu sedang tidak melihat ponsel, ya repot karena Windows Phone tidak menyertakan Tray tadi. Alhasil, percakapan di Line jadi terhenti karena kamu nggak tahu ada pesan baru yang masuk.
Tapi jangan sedih dulu, karena para developer di WP sudah berjanji untuk memberikan aplikasi Notifications untuk update WP ke depan. Jadi untuk saat ini, ada baiknya untuk Pin aplikasi yang sekiranya butuh Notifikasi seperti aplikasi berkirim pesan, email atau aplikasi situs berita seperti CNN, USA Today, Kompas dll. :)
Keamanan di Windows Phone bisa dibilang hampir sama dengan yang ada di iOS, salah satunya fitur Bluetooth. Di Windows Phone, Bluetooth tidak bisa berkirim file audio dengan alasan "pelanggaran hak cipta" maksudnya, dengan menyebarkan audio melalui Bluetooth itu sama saja dengan pembajakan, makanya di Windows Phone nggak ada fitur itu. Kalau memang harus kirim file audio, bisa dari email tapi lagi-lagi, nggak bisa dari email yang ada di Windows Phone. Buka dari komputer atau laptop, nah, dari situ bisa kirim email dengan attachment audio. Berbeda dengan Android yang bisa menyebarkan file apa saja dari satu device ke device lain. Tapi sekarang, Google sendiri lagi mengalami masalah mengenai sistem keamanannya yang dianggap banyak orang, rendah. Bahkan lebih rendah dari Bing dan Firefox. Keamanan ini menyangkut di dalamnya password dan data pribadi dari pengguna.
Untuk aplikasi di Windows Phone baik itu 7.8 dan 8, memang belum sebanyak yang ada di Android atau iOS, dan kebanyakan berbayar. Tapi enaknya di Windows Phone, semua aplikasi berbayar bisa dicoba terlebih dahulu dengan masa coba berbeda-beda untuk setiap aplikasi, tapi biasanya satu bulan. Dalam masa percobaan itu beberapa aplikasi, misalnya Game, memberi batasan. Seperti hanya dapat digunakan hingga level sekian, beberapa aplikasi bahkan tidak menyediakan fitur 'Saved Level". Contoh, kamu main hingga level 7, lalu keluar dari game dan kembali lagi dua hari kemudian untuk melanjutkan level, game ini akan mengulang lagi dari awal level. Agak rese' sih, but if you really like the game, kenapa nggak beli? Dengan mencoba terlebih dahulu, Microsoft yakin pengguna tidak akan merasa rugi, daripada sudah beli ternyata game-nya tidak semenarik tampilannya, itu baru rugi! Untuk pembeliannya sendiri bisa melalui kartu kredit atau debit, belum bisa potong pulsa (tergantung operator juga).
Android memiliki banyak aplikasi gratis karena tidak perlu membayar sejumlah uang dalam jumlah besar sementara OS lain seperti iOS dan Windows Phone mengharuskan developer membayar sejumlah uang yang cukup mahal. Sebagai perbandingan:
Apple mengharuskan developer membayar $ 99 per tahun untuk bergabung di iOS Developer Program, di mana developer dapat merilis aplikasi buatannya ke iPhone, iPod touch juga iPad. Kalau developer mengratiskan aplikasinya, maka tidak ada biaya tambahan yang harus dibayarkan ke pihak Apple. Namun kalau aplikasinya berbayar, maka developer harus membayar 30% ke pihak Apple untuk setiap alikasi yang terjual. Jadi kalau harga aplikasinya IDR 100.000, IDR 30.000 harus dibayarkan ke Apple untuk setiap 1 pengguna yang membeli.
Sama seperti Apple, Microsoft juga mengharuskan developer membayar $ 99 per tahun untuk bergabung di App Hub, di mana para developer ini dapat mengembangkan aplikasinya untuk Xbox 360 dan Windows Phone. Microsoft juga tidak membebankan biaya tambahan apabila aplikasinya diedarkan secara gratis dan menarik biaya 30% untuk setiap aplikasi yang terjual. Bedanya dari Apple, developer bisa mengajukan hingga maksimal 100 aplikasi secara gratis, baru setelahnya dikenakan biaya $ 19.99 untuk setiap pengajuan aplikasi.
Sementara Google, hanya meminta developer membayar $ 25 dimuka untuk mendapatkan akun developer di Google Play, tempat di mana developer dapat mendistribusikan aplikasinya. Seperti Apple dan Microsoft, Google juga tidak mengambil bayaran atas aplikasi yang diedarkan secara gratis, namun memotong 30% untuk setiap aplikasi yang terjual. Tapi jangan salah paham dulu, 30% ini bukan untuk Google, melainkan untuk operator dan bea komunikasi. Seperti yang tertulis di Android Developers Blog:
"Developers will get 70% of the revenue from each purchase; the remaining amount goes to carriers and billing settlement fees—Google does not take a percentage. We believe this revenue model creates a fair and positive experience for users, developers, and carriers."
Kalau dihitung-hitung, submit aplikasi di Google lebih murah, cuma $ 25 untuk seterusnya tanpa ada biaya tambahan lain. Tapi di sini justru timbul masalah. Di Android, setelah developer selesai bikin aplikasi, aplikasi tersebut sudah dapat langsung live di Google Play.
"Once registered, your apps can be made available to users without further validation or approval."
Kalau developernya nakal, dia bisa saja bikin aplikasi Malware, lalu sebarkan di Google Play. Seperti yang pernah kejadian tahun lalu. Efeknya, yang rugi pasti pengguna. Kalau cuma masalah bugs di mode pengetikan, mungkin tidak terlalu mengganggu. Tapi kalau virusnya bikin ponsel mati total dan menarik data pengguna?
Sementara kalau di Apple dan Microsoft, semua aplikasi yang masuk harus melewati proses validasi, pengecekan dan persetujuan. Proses ini akan menjamin aplikasi yang masuk ke App Store (Apple) dan Windows Phone Store (Microsoft) bebas dari ancaman virus atau Malware atau aplikasi yang menarik dan menggunakan data pengguna tanpa seijin empunya. Itu sebabnya aplikasi yang ada di App Store dan Windows Phone Store bertambah sedikit demi sedikit, tidak dengan Google Play yang bisa dengan mudah bertambah banyak dalam waktu singkat.
User Interface
Karena memiliki akses yang bebas untuk membuat UI, antar muka yang dimiliki oleh ponsel Android dapat berbeda-beda untuk berbagai produsen. Antar muka dari HTC, Samsung dan Motorola pastinya tidak akan sama. Hal ini dapat membuat pengguna kesulitan saat ia harus berganti handset. Pengguna harus mulai dari awal lagi untuk menyesuaikan diri dengan antar muka yang baru walaupun beberapa fitur dan fungsi tetap sama. Hal terburuk jatuh kepada para developer. Mereka harus membuat aplikasi yang kompatibel dengan berbagai tipe handset. Makanya beberapa aplikasi di Google Play belum tentu bisa dimainkan di banyak tipe ponsel walaupun memiliki persyaratan minimum. Lain halnya di Windows Phone, antar mukanya akan sama walaupun digunakan oleh banyak produsen macam Nokia, Samsung, HTC dan Huawei.
Integrasi
Integrasi di Windows Phone ini (menurut gw) bakalan hebat apabila benar-benar di-approach dan di-maintain dengan baik. Integrasi antara Windows Phone dengan Microsoft Offfice Mobile, konsol Xbox 360, nantinya juga akan lebih di-improve dengan Windows 8 dan update Windows Blue.
So far, itu yang gw ngerti dari Windows Phone. In case ada yang salah, tolong di-update, mengingat gw cuma pengguna awam :P



Comments