Forgive and Forget

Forgive and Forget. Itu yang banyak orang bilang ke aku. Tapi entah kenapa, aku tidak setuju. Kalau semua masalah hanya untuk dimaafkan dan dilupakan, bagaimana bisa belajar dari kesalahan yang sudah? Alhasil, kesalahan akan terulang lagi hanya karena aku tidak mengingatnya lagi.

Memang sih, ada beban untuk mengingat kesalahan yang sudah-sudah. Bisa jadi aku malah makin tidak suka terhadap seseorang (misalnya-fik). Tapi, berfikir positif. Yaitu, mengingat kesalahan hanya untuk mengambil intisari dari apa yang sudah pernah dialami dan mencoba untuk menselaraskannya kembali dengan kehidupan sekarang. Ingat, semua orang bertumbuh, dan itu bukan pilihan. Tapi untuk menjadi pribadi yang dewasa, itu pilihan setiap orang. Dan aku memilih untuk menjadi dewasa, tidak, tidak berhenti hanya untuk saat ini, tapi belajar untuk menjadi dewasa selama aku hidup. Karena menurutku, kedewasaan itu tidak mengenal usia. Semakin kau bertambah usia, semakin banyak pengalaman yang akan aku dapat, dan semakin matang pula pemikiran yang hendaknya aku proses dan semakin sabar pula dalam menghadapi semua urusan entah dengan orang lain, bahkan yang tersulit, dengan diri sendiri.

Terkadang, saat ingin memaafkan, kenangan yang buruk justru muncul dan mencegah aku melakukan perbuatan yang seyogyanya dan ingin aku lakukan sebelumnya. Salah? Tidak. Tapi, kalau terus seperti itu, bagaimana aku dapat membuka hati untuk orang lain dan memaafkan seperti yang lain? Entah kenapa, kalau aku mengingat kejadian-kejadian baik dan menyenangkan, kata "maaf" akan dengan mudah meluncur dari mulutku. Bahkan hanya dengan senyum, semua seperti selesai. Relieve.

Tapi untukku, aku dapat memaafkan, tapi tidak melupakan.



Comments

Popular posts from this blog

Gempuran Voucher Diskon

This, is Lumia 920