Pernikahan (lagi)


Aku duduk di sebuah kursi di deretan ke sekian dari depan. Kedua mempelai sudah duduk di pelaminan dan sepatah dua patah kata serta doa sedang dipanjatkan dari sisi pelaminan oleh para tetua keluarga. Setelah menutup telepon untuk menjawab pertanyaan teman-temanku kalau aku sudah berada di dalam gedung, aku menoleh ke arah Vhino, di sebelahku, yang masih berkutat dengan souvenir yang tadi diberikan di beranda gedung pernikahan. Aku akhirnya mengarahkan pandangan ke arah pelaminan. Di sana, mereka, kedua pengantin, terlihat bahagia karena telah menemukan -- yang menurut mereka -- soulmate, atau pasangan hidup mereka. Setelah pembacaan doa selesai, sebagian orang mulai memadati karpet merah yang tergelar membelah di depan pelaminan. Sementara sebagian lagi menyerbu meja prasmanan atau gubuk-gubuk makanan ringan. Vhino bertanya. Aku hanya mengangguk dan beranjak. Kami mulai mengantri untuk memberikan selamat ketika ponselku bergetar. Aku pikir teman-temanku tersasar. Namun kali ini sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselku. Setelah kubaca, untuk kesekian kalinya aku mendesah. Vhino bertanya. Aku mengangsurkan ponselku kepadanya. Undangan pernikahan lagi. Setelah Donny, Nicko, lalu Satria, Kemal, dan Raymond. Entah siapa lagi nantinya yang akan mengangsurkan undangan pernikahan ke hadapanku. Mereka, yang pernah ku kenal, tidak terbayang kalau mereka menikah dan mulai hidup berumah tangga. Maksudnya, tidak terbayang kalau secepat ini. Entah kalau mereka, tapi menurutku, ini masih terlalu cepat. Atau terlalu lama bahkan? Entah. Yang penting, aku harus bersiap-siap dan mengucapkan selamat untuk mereka yang berbahagia. :)



Comments

Popular posts from this blog

Gempuran Voucher Diskon

This, is Lumia 920