This, is Lumia 920
Ada alasan kenapa gw pilih Nokia Lumia 920 sebagai ponsel dengan OS Windows Phone yang bakal gw punyai dalam waktu yang lama. Tapi gw nggak pernah sadar ternyata isi dari ponsel ini lebih dari sekedar beautifully designed and powerfull OS. Beberapa fitur juga baru gw ketahui setelah pegang ponselnya. Biasa, user experience. :D
Windows Phone 8
Setelah kecewa karena Nokia Lumia 800 gw ternyata nggak bisa di-upgrade ke Windows Phone 8, gw memutuskan untuk menabung dan ngincer nih ponsel. Saat itu, alasan pertama yaitu design ponselnya yang ngambil design dari N9, Lumia 900 dan Lumia 800. Kedua, OS-nya.
Tapi ada apa dengan WP 7.8, kenapa harus WP 8? Awalnya sederhana, gw suka ukuran Live Tiles yang lebih kecil biar bisa muat banyak aplikasi di Home Screen. Walaupun akhirnya di WP 7.8 hal itu bisa dilakukan, tapi tetap, WP 8 dianggap lebih stabil untuk menjalankan banyak aplikasi yang membutuhkan daya kerja optimal dan maksimal baik dari segi prosesor, layar atau baterai. Unless you're not an apps-o-holic dan nggak terlalu suka mengoptimalkan grafis di layar ponsel, ya WP 7.8 cukup lah.
Nokia ClearBlack Display
Waktu masih pake ponsel Nokia 6120 Classic & Android, gw ngerasa sangat sulit buat ngeliat layar waktu jam makan siang atau waktu lagi nunggu bis di pinggir jalan. Pasti pernah ngerasain kan naungin layar pake tangan biar keliatan apa yang ada di layar? Nah, mulai di ponsel ini, Nokia pake teknologi yang namanya Nokia ClearBlack Display. Teknologi ini memungkinkan pengguna ponsel tetap dapat ngeliat ponsel di bawah sinar matahari. ClearBlack Display juga memberi warna hitam yang beneran hitam. Maksudnya, hitamnya keliatan dalem, nggak hitam grey-ish.
Nokia PureMotion HD+
Layar pada ponsel itu ngebawa jutaan piksel termasuk di dalamnya, warna. Nah, setiap pikselnya akan berjalan untuk membuat tampilan pada layar menjadi lebih 'hidup'. Berjalan di sini maksudnya saat pengguna berinteraksi dengan layar ponsel, misalnya menggeser menu, ganti wallpaper, pindah aplikasi, dsb. Tapi, kadang-kadang ada satu atau beberapa piksel yang nggak mampu bergerak sempurna atau sedikit lambat merespon. Kalau ada kejadian kaya gini, layar ponsel bakalan keliatan burem atau malah jadi lag. Biasanya sih kalau pikselnya mati, keliatan tuh ada satu bintik item atau putih yang biasa disebut Noise. Nah, biar konten yang tampil di layar ponsel bisa tertampil dan bergerak dengan sempurna, Nokia nyiptain yang namanya teknologi ini, Nokia PureMotion HD+. Jadi, setiap piksel itu dikasih tenaga tambahan biar bisa bergerak dengan cepat dan sempurna (macam suntik vitamin C buat artis-artis :D). Setiap piksel bakal bergerak dua kali dari biasanya, tapi nggak makan energi alias nggak habisin daya baterai. Efeknya, ya pengguna bisa lebih nyaman liat layar ponsel tanpa ada gangguan. Penjelasannya ada di video yang di bawah nih.
Kamera 8 MP
Sebelumnya, gw bukan orang yang terlalu peduli sama kamera ponsel. Kalo mau ambil gambar, ya pake kamera beneran. Fitur kamera di ponsel itu menurut gw, cuma sekedar pelengkap aja. Karena kalau pergi-pergi dan lo lupa bawa kamera digital atau kamera film, setidaknya ada kamera ponsel.
Tapi peningkatan kualitas kamera dari Lumia 800 ke Lumia 920 ini bener bener bikin gw melongo (literally). Apalagi untuk gambar di kondisi kurang cahaya dan tanpa flash, juara! Di bawah ini gw attach hasil foto Close-up, Normal (siang & malam) semua dalam pengaturan tanpa flash dan nggak pake edit-edit.
Normal, No Flash:
Nokia juga ngasih banyak pilihan fitur yang termasuk di dalam folder 'Lenses', misalnya Panorama, Horizon Angle atau Cinemagram (buat bikin video pendek semacam .gif atau yang dimuat di Vine). Salah satu fiturnya itu, Smart Shot, dalam satu kali tekan shutter bakalan keambil 6 foto. Dari 6 foto itu, pilih foto yang menurut lo bagus, trus bisa pilih mau pake 'muka' yg mana dari 6 foto tadi, macam flashback. Fitur ini ada juga di BlackBerry Z 10, tapi lebih dulu di Nokia. Pengembang fitur ini, Scalado, udah dibeli sama Nokia dari tahun lalu. Untungnya, kesepakatan BlackBerry sama Scalado udah ada sebelum pindah tangan, kalo nggak, bisa-bisa BlackBerry nggak punya fitur ini atau harus bayar royalti ke Nokia. Ya begitulah.
Material Premium
Jujurlah, pada jamannya dulu semua orang pasti punya ponsel Nokia. Kalopun enggak, pasti pernah pegang ponselnya. Semua orang juga udah tau kalo Nokia bikin produk pasti tahan lama. Nokia CDMA gw aja udah 6 tahun gw pake dan masih bagus, cuma sekarang mulai agak sulit di-charge. Masih inget Nokia Communicator? Beberapa orang masih punya dan pake lho. Itu juga jadi salah satu alasan kenapa gue beli Nokia. Mereka sudah bertahun-tahun bikin produk yang bagus dan tahan lama dan itu sudah terbukti. Beda sama Samsung Android gue yang baru setengah tahun, layarnya jadi kedip-kedip hingga akhirnya nggak bisa akses touchscreen, pun tablet Smartfren gue yang baru sekali jatoh udah agak retak di beberapa bagian. Orang tahu kalau Nokia bikin produk untuk tahan selama beberapa tahun, sesuai dengan keinginan gue yang pengen punya ponsel durable, yet sophisticated in design and also functional with less hustle.
Lumia 920 ini pake material Polycarbonate. Plastik, memang. Tapi bukan plastik yang biasa ditemuin di ponsel low-end atau di produk Samsung, tapi plastik yang udah dipadetin, jadi tetap nyaman di tangan dan ringan (walaupun nih ponsel terbilang cukup berat :))). Desainnya juga unibodi, alias nggak ada cover belakang jadi nggak bisa buka-tutup casing buat copot-pasang baterai atau nyelipin micro SIM macam desain iPhone, HTC sama Sony Xperia. Desain begini ada untungnya, jadi kalo jatoh nggak pada nyebar tuh komponennya ke mana-mana.
Yang gue suka, layarnya chuy. Melengkung, nggak flat kaya layar ponsel kebanyakan. Bentukan yang melengkung atau curved di bagian pinggirnya bikin penggunaannya jadi lebih nyaman. Saat menggeser jari, nggak berasa kalo udah di pinggir layar karena didesain smooth. Desain ini awalnya dipake di Nokia N9, 'Touch to the very edge of the screen," kalo kata Nokia.
Nokia Wireless Charging
Ini lagi terobosan dari Nokia. Nggak bisa dibilang terobosan juga sih, karena konsorsium 'qi' dan fitur ini nantinya akan jadi standar pengisian daya ponsel untuk semua ponsel. Alasannya mudah, biar nggak repot sama kabel. Penggunaannya juga gampang. Akan ada satu buat alat yang nantinya akan ditempelkan ke ponsel (bisa docking atau plate). Alat itu dihubungkan dengan kabel dan dicolokkan ke sumber listrik. Letakan ponsel di ata docking atau plate, trus nanti langsung charging. Gue suka sama pemikirannya, tapi ternyata nggak terlalu fancy sama pengaplikasiannya, kenapa? Jadi, karena cuman ditaroh dengan chip dan nggak langsung mengisi daya ke dalam baterai ponsel macam cara konvensional, jadi butuh waktu cukup lama kalo mau charging. Gue pernah coba pake wireless charging plate gue, kalo biasanya butuh waktu 1.5 jam buat isi daya dengan cara biasa, kalo pake plate butuh 2.5 jam, dua-duanya dalam kondisi sisa baterai yang sama sampe penuh.
Enaknya, kalo charging sambil tidur atau nonton TV, nggak ribet sama kabel ketarik sana-sini apalagi alo sampe kesandung, douh.
Nokia Super Sensitive Touch
Ponsel touchscreen yang kali pertama gue punya itu adalah Samsung Star dengan layar resistif. Lalu ganti ke Samsung G5110 yang layarnya udah kapasitif hingga ajal Lumia 800 dan sekarang lompat ke Lumia 920. Sewaktu masih pake Samsung Star, agak repot karena harus sedikit ditekan-tekan layarnya, mengingat teknologi resistif memang bukan semata mengandalkan sentuhan. Sementara di Samsung G5110, layar kapasitif-nya ya seperti layar kapasitif yang lain, nggak harus ditekan tapi juga kadang missed-touch. Beda di Lumia 920. Layar kapasitifnya halus parah. Sebenernya pengalaan touchscreen sejak di Lumia 800 udah terasa bedanya dibandingkan Samsung G5110, tapi di Lumia 920, ternyata touchscreennya ditingkatkan lagi. Tingkat kehalusannya sendiri beda sama iPhone5 atau Android Jelly Bean yang udah pake Project Butter.
Nih ponsel juga bisa tetap dipake sambil pake sarung tangan. Tapi bukan sarung tangan kulit buat naek motor ya, sarung tangan woll atau bahan gitu, masih bisa dieksekusi dengan baik. Pake kunci juga bisa, tapi sebelumnya harus diatur dulu tingkat kesensitifan layar dari menu Setting. Kalo nggak salah, Samsung Galaxy S 4 sekarang juga udah bisa begitu deh. Gw sendiri belum pernah coba kalau di SGS 4, belum pernah hands-on :D.


.jpg)












Comments