#SwitchToLumia; The Beginning
Switch to Lumia. Memang pas sama keadaan yang akhirnya sekarang gue jalanin. Jauh sebelum ponsel Samsung Android gue hilang, Windows Phone (WiPo) sudah jadi salah satu ketertarikan tersendiri buat gue. Hingga akhirnya WiPo gandengan sama Nokia & nyoba nyebrang jalan bareng, Lumia jadi pilihan pertama.
From N9 to 'and none'
Sebelum gue tahu desas-desus akan WiPo yang di-rebirth sama Microsoft, gue udah jatuh hati sama desain Nokia N9. Desain sleek unibody dengan layar yang sedikit cembung dan tanpa sudut hingga ke pinggir bikin gue ngerasa, "Ini desain ponsel yang sexy karena lekuknya pas." Apalagi, bisa mengakses aplikasi ponsel hingga ke pinggir layar, salah satu hal yang nggak bisa gue dapetin saat pake Android. Saking jatuh hatinya, gue bertekad untuk beli ponsel itu. Video ad-nya bahkan gue donlot dari YuTub dan masih disimpen hingga sekarang (#SusahMoveOn :P). Saat itu gue lagi asik menilik soal Android. Operating System buatan Google sepertinya lebih menyenangkan untuk dipake. Apalagi, mengingat harga N9 yang waktu itu menyentuh level di sekitaran IDR 4.5 juta, gue pun mengurungkan niat serta mulai belajar soal Android, dan N9 pun tidak sampe ke tangan.
Approached by Droid
Samsung Star gue akhirnya dipinang. Dan setelah pencarian & pertimbangan, Samsung Galaxy 551 pun menjadi pilihan. I never really trust slide, swipe or flip cellphone before, tapi SG 551 gue pilih karena merupakan salah satu ponsel Android terbaik dengan layar cukup lebar dan harga bersahabat, IDR 2.5 juta free SD Card 2GB. Apalagi SG 551 menjadi ponsel murah Samsung yang sudah berjalan dengan Android Froyo, OS Android yang paling stabil dan akan jadi OS basic untuk semua ponsel Android, pada saat itu. Sebuah penantian yang cukup lama untuk menunggu Froyo, karena Donut dan Eclair yang saat itu dibenamkan di dalam Sony Ericcson couldn't get my attention. And I was proud back then, jadi salah satu orang yang udah megang dan nyobain Android, sementara yang lain asyik terhanyut ombak BlackBerry (Ping! :D)
Pada pertengahan penggunaan Android, kabar dari Nokia turun kalau Operating System dari N9, Meego, nggak akan diteruskan. Artinya, Meego akan berhenti di situ. Nggak ada update, nggak ada aplikasi baru, nggak ada perbaikan apapun, dead end (baca: Farewell, Meego. All Hail, Tizen). Walaupun akhirnya Meego dirombak dan 'dijual' serta dikembangkan lagi dengan nama Tizen. Saat itu what was come to my mind cuman 1, "Oh well, I guess I have to stuck with my Android then." Tapi gue salah.
Please Meet, The Windows Phone
Hingga berita mengenai WiPo dan Nokia mulai muncul dan terus bermunculan, gue mulai ngikutin. I never really put my attention about Operating System before.
Selama ponsel bisa mendukung semua aktivitas gue dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan ponsel itu sendiri, I'm good. Yang penting, ponsel harus keliatan eye-catching. At least for my eyes. Dan saat Nokia merilis Lumia 800 juga Lumia 900, I've found the feast for my eyes, and the lost love has come back once again. Ya, desain yang dipake di kedua ponsel itu memang terinspirasi atau bisa dibilang niru N9. Alasannya sederhana, pihak Nokia bilang, desain N9 digemari oleh banyak desainer dan pengguna.
Saat rilis, Lumia 800 dihargai IDR 4.5 juta sementara Lumia 900 IDR 5,5 juta. Karena merasa belum terlalu butuh ponsel dengan bawaan hardware yang tinggi, pilihan jatuh ke Lumia 800. Beberapa bulan berselang, gue baca kabar kalo dua ponsel ini banting harga hingga satu juta rupiah! I was concern. Pasti ada apa-apanya. Seorang kerabat bilang kalau dua ponsel ini nggak akan bisa di-upgrade ke WiPo 8, OS Windows yang akan menjadi OS dasar untuk semua WiPo ke depan nantinya. Gue pun mengurungkan niat beli.
The Lost Android
Dan musibah itu pun terjadi. Samsung Galaxy 551 gue hilang. Dua minggu sebelum hilang, gue memang sudah merasakan harus mengganti ponsel baru, karena beberapa kali layar sentuhnya nggak dapat digunakan. Lalu slide yang apabila digeser, membuat tampilan layar menjadi garis-garis berwarna. Apalagi dengan OS yang ternyata untuk ponsel itu, tidak dapat di-upgrade ke Gingerbread (note: Samsung gue nggak di-root). Salah seorang teman dekat, Fikri_Aul sebenarnya sudah berkali-kali menyarankan biar ponsel gue di-root agar semua aplikasi bisa dimainkan di ponsel, tapi menurut gue percuma. Kalaupun di-root, toh beberapa hal memang nggak bisa disupport sama ponsel gue misalnya, layar, RAM, memori internal, dan lainnya. Dan ya, musibah itu pun terjadi.
Welcoming The Lumia
Di saat kehilangan itulah gue mulai berfikir untuk akhirnya menggunakan WiPo. Lumia 800 jadi pilihan pertama. Tak apalah mentok di WiPo 7.8, toh WiPo 8 juga belum resmi rilis, pikir gue. Atas dasar pemikiran itulah, Lumia 800 Cyan akhirnya berhasil gue genggam. Saat itu, pihak Nokia global memberi pernyataan kalau Lumia 920 (which I adore) akan dirilis pertengahan Januari 2013. Menurut hemat gue, ponsel itu pasti akan masuk Indonesia sekitar Maret atau April. Jadi rencananya, Lumia 800 akan gue jual sekitar bulan Juli, lalu tukar tambah dengan Lumia 920. Beres. Tapi perkiraan gue salah. Rencana gue pun berantakan.
Purchasing the Lumia 920
Suatu sore, seorang teman dekat yang biasa gue panggil Koko mengirimkan sebuah tautan yang berisi Pre-order untuk Lumia 820 dan Lumia 920 pada awal Desember. Gue terkesiap. I didn't expect that. I mean, I didn't expect that will happen this fast. Lumia 800 Cyan baru gue gunakan sekitar satu setengah bulan. Di tengah kegalauan yang mengguncang (halah >_<), gue menyerah. Dengan bantuan Koko, gue menetapkan pilihan. Penetapan yang sempat meragukan bahkan di saat-saat terakhir program PO. Penetapan pilihan yang ternyata melegakan. Lumia 920 pun kini di tangan. Hell Yeah! :D
Comments